Survei PwC: Pendorong Utama dan Ekspektasi Electric Vehicle di Pasar Indonesia – Fintechnesia.com

Uncategorized98 Dilihat

FinTechnesia.com | Industri otomotif mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Ini seiring adanya pergerakan menuju solusi berkelanjutan yang berdampak pada jaringan pasokan global dan kebiasaan konsumen.

PwC Indonesia merilis Indonesia Electric Vehicle Consumer Survey 2023 memberikan wawasan unik kepada pembaca tentang kesiapan konsumen Indonesia terhadap mobil dan sepeda motor listrik (EV). Sehingga dapat memberikan gambaran tentang potensi masa depan industri ini.

Hendra Lie, PwC Indonesia Automotive Leader mengatakan, pasar EV diperkirakan
tumbuh beberapa tahun ke depan karena kesadaran konsumen terhadap kendaraan ramah lingkungan dan insentif pemerintah dan melihat peningkatan permintaan.

Terdapat pergeseran untuk mengakomodasi permintaan baru terutama untuk menanggapi isu keberlanjutan dan kemajuan teknologi. Namun, adopsi EV di Indonesia lebih lambat dibandingkan di pasar global.

“Oleh karena itu, para pemimpin industri dan pembuat kebijakan mempersiapkan masa depan kendaraan ramah lingkungan dapat memainkan peran utama di pasar,” kata Hendra, pekan lalu.

Pasar EV di Indonesia sedang bertumbuh. Namun relatif lebih lambat Keraguan konsumen masih terlihat, terutama terkait ketersediaan infrastruktur. Responden merasa khawatir terhadap ketersediaan stasiun pengisian untuk kendaraan listrik, baik untuk mobil (63%) maupun sepeda motor (52%).

Kekhawatiran responden lain adalah ketersediaan stasiun pengisian daya kendaraan listrik di daerah terpencil. Hal ini menunjukkan perlunya infrastruktur pengisian daya yang merata untuk memenuhi kekhawatiran konsumen.

Baca juga: Penjualan Mobil dan Motor Listrik Naik Pesat, Ini Tips Beli Online Kendaraan Listrik dari Tokopedia

Walaupun daya tarik EV semakin besar, kekhawatiran konsumen dapat mempengaruhi tingkat adopsi EV secara signifikan. Hal ini termasuk biaya pemeliharaan yang mungkin menjadi mahal dalam jangka panjang.

Sebanyak 87% responden paling khawatir terhadap biaya penggantian baterai, 83% mengkhawatirkan harga suku cadang, 66% khawatir terhadap pengeluaran tak terduga, dan 59% mengkhawatirkan biaya perawatan rutin.

Baca Juga  Telkomsel Prediksi Lonjakan Trafik Broadband Natal dan Tahun Baru Mencapai 13% - Fintechnesia.com

Pemahaman yang lebih mendalam mengenai kekhawatiran ini sangat penting bagi produsen, pembuat kebijakan, dan pemangku kepentingan lain, agar dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan konsumen di Indonesia secara efektif. Pengisian daya adalah salah satu pertanyaan paling penting saat mempertimbangkan sebuah EV untuk pertama kali.

Berbeda dengan mobil tradisional yang mengeluarkan gas rumah kaca selama pengoperasiannya, EV tidak menghasilkan emisi knalpot dan dapat mengurangi jejak karbon transportasi secara signifikan, terutama di wilayah perkotaan.

Meskipun EV memiliki emisi operasional yang lebih rendah, penting mempertimbangkan keseluruhan siklus hidupnya. Hal ini mencakup emisi dari sektor manufaktur dan, yang terpenting, pembangkit listrik.

Sebagian besar responden berpendapat bahwa EV adalah kendaraan masa depan. Mesin yang lebih senyap (85%), teknologi inovatif (76%), dan aspek menarik yang belum pernah ada sebelumnya (82%), adalah tiga fitur utama EV yang tidak dapat ditiru di kendaraan berbahan bakar fosil.

Hendra Lie menyatakan, insentif pemerintah sangat penting dalam menentukan arah adopsi EV. Untuk mendorong pasar EV, membutuhkan upaya dari para pemangku kepentingan. Pemerintah dan sektor swasta harus menciptakan kemitraan untuk memperluas infrastruktur pengisian daya secara nasional dan memulai stasiun pengisian cepat di sepanjang jalan raya.

Pada saat yang sama, produsen harus fokus pada peningkatan teknologi baterai untuk mengurangi waktu pengisian daya. Inovasi seperti supercharger mencapai kemajuan signifikan ke arah ini.

“Kampanye kesadaran komprehensif yang menyoroti kemajuan teknologi kendaraan listrik, manfaat biaya jangka panjang, dan dampak positif terhadap
lingkungan dapat dan harus mampu mengubah persepsi. Transisi ke EV tidak bisa dihindari. Namun kecepatan transisi ini bergantung pada penanganan kekhawatiran konsumen,” ujar Hendra. (jun)

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *